Randika POV
Ketika
aku sedang dalam perjalanan menuju kantor, tiba tiba ada sekelompok preman
datang dan karena terkejut aku lansung menghentikan laju mobil yang sedang
kukendarai.
“Hei kau keluarlah” geram salah satu preman sambil menggedor
kaca mobil fortuner kesayanganku. Awas saja
kalau sampai lecet, mereka akan mendapat hal buruk karna berani mengusik
seorang Randika Atmaja!
“Huft , ada apa ini?”
sahutku sambil keluar mobil. Tapi saat aku keluar dari mobil mereka langsung
memukulku. Hah cari mati mereka! Mereka tidak tahu kan kalau aku adalah judoka
yang sudah memegang sabuk hitam?! .Aku tersenyum miring dan mulai merenggangkan
badan, kita akan lihat apa kalian masih
hidup setelah bertanding melawanku?!.
Setelah aku menghabisi mereka semua aku tidak langsung
kembali ke mobil. Memang aku menang melawan sepuluh preman itu, namun harus
kuakui kalau aku cukup kepayahan, karna kuantitas tidak bisa disepelekan bukan!?.
Karena saat ini masih jam 3 siang aku putuskan untuk bersantai di taman kota
dulu. Aku menyandarkan tubuh gur di kursi panjang taman yang menghadap ke air
mancur.
“Hei kamu
maling apa sampai babak belur begini?” seorang wanita berkata sambil duduk
disampingku .Wanita itu cantik dan manis, tubuhnya kecil dan rapuh, rambutnya
berwarna hitam panjang dan bergelombang. Matanya bulat disertai iris mata yang
senada dengan warna rambutnya. Hidungnya tidak terlalu mancung, namun sangat
sesuai dengan bentuk wajahnya.
“Apa maksudmu? Kalau aku maling, pasti aku
sudah dipenjara!” sahutku dengan ketus. “Lalu ada apa dengan wajahmu itu?”
tanyanya dengan hati-hati. “bukan urusanmu!” sahutku lagi.
Setelah itu
kami hanya berdiam diri. “hmm aku memiliki betadine dan hansaplast, kamu mau
aku mengobatimu?” dia bersuara memecah keheningan. Bibirku sakit, jadi aku
tidak menjawab hal yang sudah jelas jawabannya.Aku menegang ketika dia dengan
tiba tiba memegang wajahku agar menoleh padanya. Aku merasa ada aliran listrik
yang mengalir ketika dia menyentuh wajahku.
Dia menumpahkan air minum ke sapu tangan
miliknya dan setelah itu membersihkan wajahku yang ada bercakdarahnya. Aku
hanya membatu karena bingung dengan yang kurasakan. Aku meringis ketika dia
mengoleskan betadine pada bibirku yang sobek.
Dan setelah
itu kami saling bertatapan. Taman disekeliling kami terlihat mengecil dan
menyisakan kita berdua, namun kenapa dadaku seakan ingin pecah? Mengapa jantungku
berdegup? Hal yang baru kurasakan pertama kali dalam dua puluh lima tahun dalam
hidupku?! Apa mungkin aku mengalami Love at first sigh? Sesuatu yang sangat
tidak masuk akal dan tidak pernah kupercayai seumur hidupku?


Tidak ada komentar:
Posting Komentar