Perfect Prince
Norinda POV
Kevin kemana sih! Dari tadi di
telfon tapi ga di jawab, biasanya dia selalu ngasih kabar walau sibuk kerja. Ya
namaku Norinda biasa dipanggil Nori, dan Kevin adalah pacarku ,kita sudah
pacaran hampir tiga tahun dan aku pikir dia prince yang dikirim buat mewarnai
hari hariku.
“Kenapa San?
Tumben lo nelpon, biasanya irit pulsa?” sahutku ketika Sandra menelpon.
“hmm.. Nor
lo cepetan ke kafe green garden ya yang deket taman kota itu, penting nih,
menyangkut hidup matinya hati lo!” What! Langsung dimatiin gila nih anak, pasti
darurat banget. Apa jangan jangan dia ga bisa bayar bill di kafe itu lagi? awas aja kalo beneran!
-GREEN
GARDEN-
Sampai di
kafe aku langsung mengedarkan pandanganku.. Hmm bagus juga nih kafe, suasananya
nenangin banget dan banyak bunga mawar putihnya, pas banget bunga kesukaan gue!
Tapi pas melihat pasangan yang asik bermesraan
di pojok dekat balkon, aku merasa mati rasa. Dia seseorang yang ku cara dan ku
khawatirkan sedang asyik memegnag tangen seorang wanita. Aku tidak bisa melihat
wajahnya karena dia membelakngi ku.
“Hei, jangan
nangis ya beb, cowok begitu mending dibuang kelaut!” kata Sandra yang baru
kusadari telah berdiri disampingku. Gue tidak mempedulikannya dan langsung
berjalan ke pasangan yang masih asyik bermesraan.
“Whats the
hell!” Teriak kevin sambil memegang kepala yang telah kutumpahkan orange juice
. “Hai mantan pacar, aku Cuma mau ngasih surprise buat hari putusnya kita!”
sahutku sambil menatap kevn sambil tersenyum. Tapi ketika melihat wanita
selingkuhan kevin aku terheyak, Farah?
Sepupu gue? Selingkuhan kevin? Sejak kapan?
“gue ga
nyangka kalian bisa lakuin hal hina kaya gini! Apa salah gue? Apa jangan jangan
kalian udah lama selingkuh?! Gue benci kalian!” teriakku sambil berlalu dari
sana, tak ku hiraukan mereka yang memanggil manggil namaku. Mereka telah
menghianatiku, membohongiku dan mengacaukan hidupku.
Apa
salahku? Bagaimana mungkin Kevin sanggup melakukan hal ini? Apa artinya tiga
tahun penuh kasih? Apa selama ini dia tulus mencintaiku? Atau selama ini hanya
sandiwara? Dan kenapa harus farah? Sepupu yang paling membenciku? Pertanyaan
demi pertanyaan terus muncul dalam pikiranku, tanpa aku bisa menjawabnya.
Tak
kusadarai kini aku sudah di taman kota dekat air mancur. Ketika aku ingin duduk di
kursi taman, aku mendengar suara mengaduh seorang pria. “Auh sakit! “ rintih
pria itu. Aku cukup terkejut melihat penampilan pria itu. Wajahnya penuh memar
dan lebam, ujung bibirnya robek dan baju yang dipakainya banyah bercak darah.
Aku seperti melihat maling yang telah diamuk massa.
“Hei kamu
maling apa sampai babak belur begini?” aku berkata sambil duduk disampingnya.
Aku tidak mengerti mengapa aku berani menyapanya. Pria itu menoleh dan menatap
tajam padaku. “Apa maksudmu? Kalau aku maling, pasti aku sudah dipenjara!”
sahut pria itu. “Lalu ada apa dengan wajahmu itu?” tanyaku dengan hati-hati. “bukan
urusanmu!” ketus pria itu.
Setelah itu
kami hanya berdiam diri. “hmm aku memiliki betadine dan hansaplast, kamu mau
aku mengobatimu?” aku bersuara memecah keheningan. Karna tidak menjawab, aku
langsung meraih wajah pria itu agar menatapku. Aku langsung menumpahkan air
minum ke sapu tangan yang selalu aku bawa. Dia meringis ketika aku membersihkan
wajahnya dan mengaduh ketika aku mengoleskan betadine pada bibirnya yang robek.
Aku cukup terna ketika melihat wajah pria ini dari dekat. Tampan... dan
seketika dadaku berdegup kencang.
