kursor

Blogger Widgets

Selasa, 04 Agustus 2015

PERFECT PRINCE PART 3

Norinda POV

            Aku yang pertama memutuskan kontak mata diantara kita. Aku mengerjap dan menghela nafas untuk mengurangi debaran jantungku. Dan sesuatu yang baru aku sadari. Bersamanya aku melupakan Kevin, melupakan semua masalah yang aku hadapi. Hanya dengan duduk bersama dan saling menatap seperti tadi aku merasa tenang dan damai. Sesuatu yang tidah pernah kurasakan . Bahkan bersama Kevin.

Hmm mengingat tentang dia aku heran mengapa aku tidak sakit hati?. Mungkin selama ini aku tidak mencintainya. Berusaha mencintainya dalam 3 tahun ini, namun yang kurasakan hanyalah rasa nyaman dari seorang kakak, bukan pangeranku. Dan apa yang kurasakan saat melihat dia dan Farah adalah rasa kecewa karena dihianati. Setiap orang pasti kecewa bila dihianati bukan?!.

Setelah kami berdiam diri lagi, entah mengapa dia menjadi lebih terbuka. Kami membicarakan banyak hal. Dari suasana taman kota yang menyegarkan hingga hobby kita masing masing. Aku cukup merasa sedih ketika matahari mulai terbenam. Kilau keemasan yang muncul membuat efek wajahnya menjadi semakin tampan. Ah.. ya aku akan mendeskripsikan penampilannya.

Kulitnya kecoklatan dan badanya kekar, mungkin ia sering berolahraga. Matanya hitam sempurna dan payungi alis yang tebal. Mungkin ia keturunan timur?, entahlah yang pasti orang yang menatapnya akan terbius. Termasuk aku. Rambutnyapun hitam dengan potongan pendek. Secara keseluruhan iya mirip dengan pangeran yang diusir karena ketampanannya ,Omar..

Hahaa aku tertawa kecil karena pikiran aneh yang melintas di otakku. “kenapa kau tertawa sendiri?”tanya dia sambil mengerutkan kening
“Tidak apa apa, ah ya selama kita mengobrol tadi aku belum tau namamu. Siapa namamu?” tanyaku mengalihkan pembicaraan

“Benar, kita mengobrol seperti teman lama yang akhirnya bertemu lagi, tapi nyatanya kita hanyalah orang yang tak sengaja bertemu secara kebetulan dan tidk tau nama masing-masing. Namaku Randika, panggil saja Dika. Dan kau?” ucapnya sambil tersenyum kecil

“Aku Norinka, panggil saja aku inka, jangan nori!” kataku sambil mengancamnya.

“HAHAHA tidak mau! Aku ingin memanggilmu Nori! Kau tau aku suka nori? Rumput laut itu sangat enak tau!” dia tertawa terbahak.

“huft sudahlah, kalau kau tertawa terus, llebih baik aku pergi saja” sahutku dengan memeletkan lidah. Aku beranjak dari tempat dudukku.

“Tunggu! Sebelum kau pergi, aku ingin kau mengingat sesuatu. Bila nanti kita bertemu lagi ,akan kupastikan kita bertemu lagi aku akan melamarmu. Jadi bersiaplah, menjadi istri Randika Rahmanda.” Dan setelah itu dia mengecup keningku.


Aku hanya terdiam selama beberapa saat. Aku terkejut dengan ucapannya, namun entah mengapa aku tersenyum menunggu saat kita akan bertemu lagi. 
                                              -END-





- Kau yang hadir menghapus dukaku...
  Menemaniku di sepanjang senja
  Entah takdir mana yang harus kusesali
  Karena penghianatan yang diberi oleh dia
  Telah mempertemukan kau dan aku
  Aku harap kita dapat berjumpa kembali
  Meski hanya untuk bertukar sapa -
 from Norinda









- Tuhan telah memberiku banyak kebahagiaan
  Dan kebahagiaan terbesarku adalah bertemu kamu
  Aku pastiakn kita akan bertemu lagi
  Karena kau akan kucari sepanjang hidupku
  Dan setelah itu aku akan menikahimu -
from Randika
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar